Definisi Bahagia Dengan Tasawuf

Tasawuf ,Arab

Darulfuqoha.com || Berbicara mengenal Tuhan atau Rabb adalah berbicara tentang bagaimana meraih kebahagiaan di setiap aspek kehidupan. Mengharap ridho, dan buahnya adalah ketenangan yang berarti. Jika ditanya, memang setiap orang memiliki definisi apa yang menjadi pribadinya masing-masing. Namun, alangkah baiknya kita mengambil rujukan yang menjawab kesempurnaan dari definisi kita itu sendiri dari pakarnya. Jika kita berbicara hati, maka kita akan bertanya kepada ahlinya hati. Tentu saja banyak ahli hati, tinggal kita akan menemukan mana yang sesuai dengan qalbu kita. Jika pas, maka disitu mungkin ada petunjuk dari Allah. Allah membersamai dalam kebaikan-kebaikan.

Baca juga Pentingnya TOAFL

Menurut Imam al-Ghazali, kesempurnaan bahagia itu bergantung pada tiga kekuatan.

Pertama, kekuatan marah. Benarkah kekuatan amarah menjadi kekuatan bahagia? Ya, tentu saja jika amarah diletakkan pada posisinya yang tepat dalam tanda kutip tidak berlebihan dan tidak berkekurangan. Ketika berlebihan dalam amarah, maka akan timbullah pembawaan kepada binasa bahkan pembunuhan. Jika berkekurangan, maka kita akan merasa tidak memiliki tanggung jawab terhadap agama dan kurang akan ghairah atau kecemburuan atas kesalahan yang diperbuat, dengan tanda kutip ketika ada kebatilan/kesalahan tidak memiliki rasa marah. So, letakkan amarah ditengah, jangan berlebih dan jua jangan kurang darinya.

Kedua, kekuatan syahwat. Demikian pula halnya dengan syahwat. Kalau syahwat itu bertambah-tambah, terjadilah fasiq (melanggar perintah Tuhan), onar (huru hara). Kalau syahwat kurang teguh, terjadilah kelemahan hati dan pemalas. Kalau syahwat berjalan di tengah-tengah, timbullah ‘Iffah artinya dapat memerintah diri sendiri dan Qanaah, yakni cukup dengan apa yang ada serta tidak berhenti berusaha.

Baca juga: Islam dan Kesehatan

Ketiga, kekuatan ilmu.Tentu saja kekuatan ilmu atau pengetahuan kita akan apa yang menjadi kita bahagia akan menjadikan sempurna. Permisalan kita bahagia ketika memasak, lantas akan memasak asal-asalan saja tanpa ada pernah prosedur dan belum pernah ada ilmunya tanpa tahu sedikit pun. Meskipun hasilnya jadi atau bahagia maka tidak akan sempurna, maka perlunya di rumuskan begini dan begini sehingga menjadi bahagia yang hakiki. Apalagi ditambah pula ada yang minta ajarkan. Wah, semakin bertambah pula bahagia itu ketika ada orang yang ingin minta diajari.

Yap, tiga aspek itulah menurut Imam al-Ghazali menjadikan sempurna akan bahagia. Tentu saja, tiga aspek itu membersamai segala aspek. Lantas kita kembali ke al-Qur’an dan sunnah. Maka, bertambah sempurnalah lagi. (Luthfi Zain)

Sumber: Tasawuf Modern, Buya Hamka

Baca juga: Kursusan Bahasa Arab Al-Azhar Pare

Definisi Bahagia Dengan Tasawuf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top
× Ada yang bisa kami bantu?